Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Kumpulan Hadits Tentang Suudzon Prasangka Buruk

Daftar Isi [Tampil]

Abiabiz.com - Hadits tentang suudzon prasangka buruk. Sebagai seorang muslim kita harus selalu berprasangka baik atau husnudzon. Terutama kepada hal-hal yang belum dipastikan kebenarannya, jangan salah menduga terlebih dahulu.

hadits tentang suudzon prasangka buruk

Jangan berburuk sangka terhadap apa yang belum dibuktikan kebenarannya, prasangka buruk atau suudzon itu bukanlah hal yang terpuji. Itu justru merupakan sebuah perbuatan tercela yang tak disukai oleh Allah SWT.

Siapa saja yang bersuudzon akan mendapatkan banyak keburukan. Tidak hanya kepada diri sendiri saja, melainkan juga berakibat kepada lingkungan sekitar, keluarga, teman, hingga orang terkasih juga mungkin terkena dampaknya.

Ada pula berbagai pembahasan hadits dan dalil shahih tentang suudzon atau prasangka buruk. Hadits dan dalil shahih dari Nabi Muhammad SAW ini akan kami tulis di bawah berikut, Anda bisa langsung menyimak ulasannya.

Daftar Hadits Tentang Suudzon Prasangka Buruk

Berikut di bawah ini langsung saja silahkan simak ulasan mengenai kumpulan daftar hadits dan dalil shahih tentang suudzon atau prasangka buruk. Anda bisa langsung menyimak ulasannya pada pembahasan di bawah ini.

1. Hati-hati Suudzon

إِيَّا كُمْ وَالظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيْثِ وَلاَ تَحَسَّسُوا وَلاَ تَجَسَّسُوا وَلاَ تَحَاسَدُوا وَلاَتَدَابَرُوا وَلاَتَبَاغَضُوا وَكُوْنُواعِبَادَاللَّهِ إحْوَانًا

“Berhati-hatilah kalian dari tindakan berprasangka buruk, karena prasangka buruk adalah sedusta-dusta ucapan. Janganlah kalian saling mencari berita kejelekan orang lain, saling memata-matai, saling mendengki, saling membelakangi, dan saling membenci. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara”

Amirul Mukminin Umar bin Khathab berkata, “Janganlah engkau berprasangka terhadap perkataan yang keluar dari saudaramu yang mukmin kecuali dengan persangkaan yang baik. Dan hendaknya engkau selalu membawa perkataannya itu kepada prasangka-prasangka yang baik”

Bakar bin Abdullah Al-Muzani yang biografinya bisa kita dapatkan dalam kitab Tahdzib At-Tahdzib berkata : “Hati-hatilah kalian terhadap perkataan yang sekalipun benar kalian tidak diberi pahala, namun apabila kalian salah kalian berdosa. Perkataan tersebut adalah berprasangka buruk terhadap saudaramu”.

Disebutkan dalam kitab Al-Hilyah karya Abu Nu’aim (II/285) bahwa Abu Qilabah Abdullah bin Yazid Al-Jurmi berkata : “Apabila ada berita tentang tindakan saudaramu yang tidak kamu sukai, maka berusaha keraslah mancarikan alasan untuknya. Apabila kamu tidak mendapatkan alasan untuknya, maka katakanlah kepada dirimu sendiri, “Saya kira saudaraku itu mempunyai alasan yang tepat sehingga melakukan perbuatan tersebut”.

2. Jangan Berprasangka Buruk

Sufyan bin Husain berkata, “Aku pernah menyebutkan kejelekan seseorang di hadapan Iyas bin Mu’awiyyah. Beliaupun memandangi wajahku seraya berkata, “Apakah kamu pernah ikut memerangi bangsa Romawi?” Aku menjawab, “Tidak”. Beliau bertanya lagi, “Kalau memerangi bangsa Sind [2], Hind (India) atau Turki?” Aku juga menjawab, “Tidak”. Beliau berkata, “Apakah layak, bangsa Romawi, Sind, Hind dan Turki selamat dari kejelekanmu sementara saudaramu yang muslim tidak selamat dari kejelekanmu?” Setelah kejadian itu, aku tidak pernah mengulangi lagi berbuat seperti itu”

Abu Hatim bin Hibban Al-Busti bekata dalam kitab Raudhah Al-‘Uqala (hal.131), ”Orang yang berakal wajib mencari keselamatan untuk dirinya dengan meninggalkan perbuatan tajassus dan senantiasa sibuk memikirkan kejelekan dirinya sendiri. Sesungguhnya orang yang sibuk memikirkan kejelekan dirinya sendiri dan melupakan kejelekan orang lain, maka hatinya akan tenteram dan tidak akan merasa capai. Setiap kali dia melihat kejelekan yang ada pada dirinya, maka dia akan merasa hina tatkala melihat kejelekan yang serupa ada pada saudaranya. Sementara orang yang senantiasa sibuk memperhatikan kejelekan orang lain dan melupakan kejelekannya sendiri, maka hatinya akan buta, badannya akan merasa letih dan akan sulit baginya meninggalkan kejelekan dirinya”.

Beliau juga berkata pad hal.133, “Tajassus adalah cabang dari kemunafikan, sebagaimana sebaliknya prasangka yang baik merupakan cabang dari keimanan. Orang yang berakal akan berprasangka baik kepada saudaranya, dan tidak mau membuatnya sedih dan berduka. Sedangkan orang yang bodoh akan selalu berprasangka buruk kepada saudaranya dan tidak segan-segan berbuat jahat dan membuatnya menderita”.

Kesimpulan
Itu dia sesikid pembahasan mengenai hadits tentang suudzon prasangka buruk, hadits tentang suudzon kepada allah, ayat dan hadits tentang suudzon, tuliskan ayat dan hadits tentang suudzon, hadits tentang larangan suudzon kepada orang lain, hadits tentang menjauhi suudzon, hadits tentang larangan ghibah dan suudzon.

Baca: